Selasa, 29 Maret 2016

TUKANG SEBAR BERITA DI SOSMED

Sekarang adalah eranya sosial media. Dengan modal jari, dan gadget tentunya....orang bisa masuk dalam jaringan pergaulan yang dia inginkan. Jelas, kecanggihan teknologi akan menawarkan suatu kemudahan dan kepraktisan. Dan seperti yang sudah-sudah, setiap kemajuan teknologi biasanya diiringi dengan dampak negatif yang tentunya perlu kita waspadai.

Adalah ketika suatu sore, saya mendapatkan kiriman di salah satu grup WA, agar kita semua berhati-hati, karena ada ini dan itu.... penasaran dengan informasi tersebut, saya coba untuk mencari tahu akan kebenaran hal tersebut. Ternyata dari sumber yang sumber internet dari banyak sumber, menjelaskan bahwa berita itu hoax. Langsung saya bales di grup tersebut dengan memasukkan beberapa link bahwa yang informasi dikirim tersebut hoaks alias tidak benar. Maksud saya adalah, tolong lebih berhati-hati lagi dalam mengirim berita, apalagi tentang sesuatu yang bisa membuat kepanikan, isu sensitif misalnya berbau SARA, atau menyangkut figur seseorang. Mbok ya dicek dulu kebenarannya....karena jika itu berita yang tidak benar, bisa ikut andil menyebarkan berita kebohongan

Pernah juga, di grup yang lain, terjadi perdebatan seru, gara-gara ada informasi yang isinya disuruh untuk melakukan ini dan itu...niscaya anda akan begini dan begitu...ada yang iseng menaggapi, bertanya pada si pengirim, emang sudah melakukannya? emang udah membuktikannya...buktikan dulu baru kirim....walhasil jadi debat kusir dan membuat berisik hape karena bunyi terus. 

Ada lagi, yang membawakan broadcast yang panjang, dengan bahasa yang indah dan diakhir tulisan, ditulis bahwa itu adalah salah satu pendapat Imam Syafi'i. Ada yang mempertanyakan, "emang benar itu pendapat Imam Syafi`i?"...eh..ada yang nanggepin, "mau pendapat imam syafi`i atau bukan, kan yang penting isinya...bagus kok". Apakah kita hanya berpikir isi yang disampaikan yang penting bagus atau kelihatannya bagus.


Nah, mari kita coba perhatikan kasus sebagai berikut. Ada sebuah informasi sederhana sebagai berikut:  

Pak Gubernur bilang, " Anak-anak saya pintar dan istri saya cantik".

Anggap saja informasi ini sudah menyebar di semua kalangan lewat sosial media tentunya anggap menjadi trending topic. Bisa jadi ada beberapa tanggapan. Wah Pak gubernur narsis nih, ato ada yang membenarkan, ya emang iya kok..apa yang salah...dan tanggapan yang lainnya. 

Dari informasi tersebut, paling tidak ada 2 hal yang mesti diperhatikan atau lebih spesifik diperiksa dulu benar atau tidaknya, yaitu:
  • Lihat dari apa yang dikatakan, benar atau tidak. Apakah benar istrinya pak gubernur cantik, dan anak-anaknya pintar?. 
  • Apakah benar, gubernur berkata seperti yang telah tersebar? Ini juga perlu dicek. Bisa jadi tidak berkata demikian.
Mungkin poin yang pertama benar. Benar pun sebenarnya dari sisi substansi masih bersifat subyektif. Cantik yang bagaimana, menurut siapa, pintar dalam bidang apa, pintar dibandingkan dengan siapa, menurut siapa,,,,. Pun seandainya poin pertama benar, tapi jika poin kedua tidak benar, artinya itu bukan perkataan gubernur, maka berita tersebut tetap saja bohong. Kalau mau forward ya, dihilangkan kata-kata Pak gubernur bilang-nya. Jadi dua syarat tadi paling tidak harus terpenuhi lagi, khususnya untuk berita yang menyebutkan ini perkataannya si anu....
Dan..alangkah lebih baiknya jika kita memperhatikan, kira-kira berita itu bermanfaat tidak ya kalau di-share ke publik. Sebaiknya sharing sesuatu yang memang bermanfaat, bukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya atau malah menimbulkan perdebatan. Satu hal lagi, liat di publik itu ada siapa aja...Intinya memperhatikan manfaat dan madharatnya. 
Nah, yang benar-benar peru berhati-hati tentu membawakan hadist Nabi Salallahualaihi wassalam. Bisa jadi hadist itu kelihatannya bagus dari isi..tapi kalau itu bukan perkataan nabi, ya jangan disampaikan, bisa jadi itu hadist palsu,...meski isinya kelihatan bagus. Atau jika memang isinya benar-benar bagus dan bermanfaat, bisa dishare tapi jangan disebutkan itu adalah perkataan atau hadist dari Nabi. Jika mau menilik ke kitab hadist seperti Shahih Bukhari atau shahih Muslim, banyak hadist yang menyatakan bahwa berdusta atas nama nabi, ancamannya adalah neraka.
Jadi, mari kita sama-sama menyebarkan kebaikan, dengan mengecek suatu berita, benar atau tidaknya, jika tidak benar abaikan. Jika benar tapi tidak bermanfaat abaikan, jika itu benar dan bermanfaat, bagikanlah....


 
 
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar