Kamis, 31 Maret 2016

"DINIATI MBAYAR HUTANG"



“Sebagian PNS Mbolos Pada Hari Pertama Kerja Setelah Libur Panjang”. Demikian kira-kira judul berita yang saya lihat di internet kemarin. Saya tidak begitu tertarik dengan detail berita tersebut namun lebih tepatnya adalah prihatin sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa hal itu bisa terjadi. Tidak hanya sekali ini, bahkan hampir setiap libur panjang entah libur lebaran atau libur natal dan tahun baru, selalu saja ada berita seperti ini. Padahal katanya PNS itu adalah abdi negara.

Saya sendiri kok agak kurang sreg dengan sebutan abdi negara. Saya sendiri juga PNS. namun jika saya disebut sebagai abdi negara, kok rasanya saya tidak akan sanggup. Kata “Abdi” sendiri kalau dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah: orang bawahan, pelayan, budak tebusan. Kalau dalam bahasa Jawa, artinya kurang lebih adalah: pembantu, batur, pelayan atau bisa berarti budak. Jika dalam bahasa sunda, abdi berarti kami atau saya, tapi lebih halus seakan-akan merendahkan diri untuk menghormati yang diajak bicara dengan. Kalau dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab dari kata ‘abada-ya’budu-ibadatan. Isim fa’il (pelakunya) ‘abidun, yang berarti hamba.

Jika kata abdi ditambahkan kata negara sehingga kalau frase abdi negara, dapat diartikan sebagai hamba, pelayan yang bekerja untuk negara. Secara ekstrim, yang namanya abdi, dia bekerja namun tidak dibayar, karena memang dia pelayan bahkan budak. Namun pengertian tersebut jelas tidak akan bisa diterapkan untuk PNS. Karena kita tahu bersama, PNS menerima gaji bahkan mendapat tunjangan, bahkan untuk perjalanan dinaspun juga masih ditanggung biaya transportasi, akomodasinya serta masih mendapat uang saku. Namun yang sangat disayangkan adalah semangat sebagai abdi atau pelayan bagi negara, masyarakat atau kepentingan publik mulai luntur.

Dan melihat fenomena dalam berita internet, terlihat bahwa semangat "abdi" perlu diperbaiki. Perbaikan manusianya maupun manajemen PNS itu sendiri. Perbaikan manusia, berarti mentalnya perlu diperbaiki. Perbaikan manajemen PNS, bisa jadi seorang PNS yang awalnya baik, tapi begitu masuk PNS jadi ikut terbawa sistem sehingga tidak produktif. 

Saya jadi teringat dengan suatu anekdot tentang PNS. Sebuah sindiran yang saya rasa cukup menohok bagi sistem birokrasi di negeri ini. Dalam diri PNS itu terdapat 3 karakter, di mana tidak mungkin PNS punya semuanya. Jika dia punya 2 karakter, yang satu tidak akan ada. Karakter itu adalah:

1.      Jujur;

2.      Pintar; dan

3.      Loyal.

JIka seorang PNS jujur, dan pintar, dia tidak loyal. Jika dia jujur dan loyal berarti dia tidak pintar. Jika dia pintar dan loyal berarti tidak jujur. Entah benar entah tidak, tapi bisa jadi anekdot ini muncul karena terjadi fenomena-fenomena PNS yang memang kurang amanah, Meskipun tidak semua seperti itu.

Memang, tidak mungkin membuat PNS sebagai seorang abdi dalam makna seorang yang bekerja dan tidak dibayar. Bagaimanapun juga mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi. Namun bagaimana agar kinerja mereka bisa meningkat, sehingga uang negara untuk menggaji mereka juga berdampak bagus dan bermanfaat bagi masyarakat dan tidak sia-sia.

PNS itu berbeda dengan sebagai besar pegawai swasta. Kalau biasanya pegawai swasta gajian pada akhir bulan, karena mereka sudah bekerja pada bulan itu. Nah, kalau PNS digaji di awal bulan. Artinya PNS itu digaji dulu baru bekerja. Ini sama saja bahwa PNS itu bekerja untuk membayar hutang pada negara, karena sudah digaji duluan.

Memang tidak mudah untuk mengubah mindset tersebut. Tapi jika sudah dianggap itu sebagai hutang, paling tidak akan ada rasa pakewuh untuk mbolos, pulang sebelum waktu atau malas-malasan dalam bekerja. Dan cara mbayar hutangnya tidak hanya sekadar masuk kantor, finger print, abis itu kabur entah kemana. Tapi benar-benar mengerjakan tugasnya.

Nah yang agak repot ketika sudah ngantor ternyata tidak ada kerjaan. Ini berarti manajemennya yang perlu diperbaiki. Selain itu juga perlu ada inovasi dan kreativitas dari seorang PNS jika emang tidak ada tugas dari atasan. Paling tidak mengusulkan ide-ide pada atasan untuk perbaikan. Kalau kata teman saya, biasakanlah untuk tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban, tapi biasakanlah untuk berkontribusi. Berusahalah untuk  berkontribusi sesuai kewenangannya. Sehingga paling tidak, "hutang" tadi bisa terbayarkan dengan cara itu.

Bekerja sebagai PNS itu pada dasarnya mirip seperti jual beli. PNS menjual jasa ke negara, negara yang membayar. Bayarannya duluan, maka mesti kerja untuk mbayar hutang. Jika malas-malasan kerja apalagi mangkir/mbolos apalagi sampai korupsi. Tidak hanya sekadar sanksi di dunia, tapi lebih berat sanksi di hari kemudian. Allah mengancam bagi orang-orang yang berlaku curang sebagaimana dalam surat Al Muthafifin. Ulama menafsirkan bahwa berlaku curang termasuk di dalamnya adalah orang yang menerima bayaran utuh tapi tidak menunaikan kewajiban sesuai yang telah diterimanya. Oleh karena itu, jika Anda seorang PNS, saat  bekerja, niatkanlah untuk membayar hutang.

 


Selasa, 29 Maret 2016

TUKANG SEBAR BERITA DI SOSMED

Sekarang adalah eranya sosial media. Dengan modal jari, dan gadget tentunya....orang bisa masuk dalam jaringan pergaulan yang dia inginkan. Jelas, kecanggihan teknologi akan menawarkan suatu kemudahan dan kepraktisan. Dan seperti yang sudah-sudah, setiap kemajuan teknologi biasanya diiringi dengan dampak negatif yang tentunya perlu kita waspadai.

Adalah ketika suatu sore, saya mendapatkan kiriman di salah satu grup WA, agar kita semua berhati-hati, karena ada ini dan itu.... penasaran dengan informasi tersebut, saya coba untuk mencari tahu akan kebenaran hal tersebut. Ternyata dari sumber yang sumber internet dari banyak sumber, menjelaskan bahwa berita itu hoax. Langsung saya bales di grup tersebut dengan memasukkan beberapa link bahwa yang informasi dikirim tersebut hoaks alias tidak benar. Maksud saya adalah, tolong lebih berhati-hati lagi dalam mengirim berita, apalagi tentang sesuatu yang bisa membuat kepanikan, isu sensitif misalnya berbau SARA, atau menyangkut figur seseorang. Mbok ya dicek dulu kebenarannya....karena jika itu berita yang tidak benar, bisa ikut andil menyebarkan berita kebohongan

Pernah juga, di grup yang lain, terjadi perdebatan seru, gara-gara ada informasi yang isinya disuruh untuk melakukan ini dan itu...niscaya anda akan begini dan begitu...ada yang iseng menaggapi, bertanya pada si pengirim, emang sudah melakukannya? emang udah membuktikannya...buktikan dulu baru kirim....walhasil jadi debat kusir dan membuat berisik hape karena bunyi terus. 

Ada lagi, yang membawakan broadcast yang panjang, dengan bahasa yang indah dan diakhir tulisan, ditulis bahwa itu adalah salah satu pendapat Imam Syafi'i. Ada yang mempertanyakan, "emang benar itu pendapat Imam Syafi`i?"...eh..ada yang nanggepin, "mau pendapat imam syafi`i atau bukan, kan yang penting isinya...bagus kok". Apakah kita hanya berpikir isi yang disampaikan yang penting bagus atau kelihatannya bagus.


Nah, mari kita coba perhatikan kasus sebagai berikut. Ada sebuah informasi sederhana sebagai berikut:  

Pak Gubernur bilang, " Anak-anak saya pintar dan istri saya cantik".

Anggap saja informasi ini sudah menyebar di semua kalangan lewat sosial media tentunya anggap menjadi trending topic. Bisa jadi ada beberapa tanggapan. Wah Pak gubernur narsis nih, ato ada yang membenarkan, ya emang iya kok..apa yang salah...dan tanggapan yang lainnya. 

Dari informasi tersebut, paling tidak ada 2 hal yang mesti diperhatikan atau lebih spesifik diperiksa dulu benar atau tidaknya, yaitu:
  • Lihat dari apa yang dikatakan, benar atau tidak. Apakah benar istrinya pak gubernur cantik, dan anak-anaknya pintar?. 
  • Apakah benar, gubernur berkata seperti yang telah tersebar? Ini juga perlu dicek. Bisa jadi tidak berkata demikian.
Mungkin poin yang pertama benar. Benar pun sebenarnya dari sisi substansi masih bersifat subyektif. Cantik yang bagaimana, menurut siapa, pintar dalam bidang apa, pintar dibandingkan dengan siapa, menurut siapa,,,,. Pun seandainya poin pertama benar, tapi jika poin kedua tidak benar, artinya itu bukan perkataan gubernur, maka berita tersebut tetap saja bohong. Kalau mau forward ya, dihilangkan kata-kata Pak gubernur bilang-nya. Jadi dua syarat tadi paling tidak harus terpenuhi lagi, khususnya untuk berita yang menyebutkan ini perkataannya si anu....
Dan..alangkah lebih baiknya jika kita memperhatikan, kira-kira berita itu bermanfaat tidak ya kalau di-share ke publik. Sebaiknya sharing sesuatu yang memang bermanfaat, bukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya atau malah menimbulkan perdebatan. Satu hal lagi, liat di publik itu ada siapa aja...Intinya memperhatikan manfaat dan madharatnya. 
Nah, yang benar-benar peru berhati-hati tentu membawakan hadist Nabi Salallahualaihi wassalam. Bisa jadi hadist itu kelihatannya bagus dari isi..tapi kalau itu bukan perkataan nabi, ya jangan disampaikan, bisa jadi itu hadist palsu,...meski isinya kelihatan bagus. Atau jika memang isinya benar-benar bagus dan bermanfaat, bisa dishare tapi jangan disebutkan itu adalah perkataan atau hadist dari Nabi. Jika mau menilik ke kitab hadist seperti Shahih Bukhari atau shahih Muslim, banyak hadist yang menyatakan bahwa berdusta atas nama nabi, ancamannya adalah neraka.
Jadi, mari kita sama-sama menyebarkan kebaikan, dengan mengecek suatu berita, benar atau tidaknya, jika tidak benar abaikan. Jika benar tapi tidak bermanfaat abaikan, jika itu benar dan bermanfaat, bagikanlah....