Senin, 16 Mei 2016

"NGGAK SEMPAT ATAU BUKAN PRIORITAS?"

Saya pernah mendapatkan sebuah kiriman Whattsap dari seorang kawan. Isinya tentang percakapan antara seorang guru dengan muridnya. Saya sudah agak lupa detail percakapannya, tetapi kurang lebih adalah Sang guru menanyakan kenapa sang murid tidak lagi rajin seperti dulu, mengerjakan tugas, setor hafalan, bahkan mulai jarang hadir di kelas. Kurang lebih dialognya seperti ini.

Guru :       Wahai Muridku, kenapa akhir-akhir ini engkau jarang hadir di majelis? Hafalan juga jarang setor, PR juga jarang dikerjakan. Ada apa gerangan dengan dirimu?

Murid:      Ya..syaikh...maaf..akhir-akhir ini saya benar-benar sibuk. Pekerjaan di tempat kerja sedang padat-padatnya. Bahkan takjarang saya lembur sampai malam. Di akhir pekan, saya maksimalkan untuk bertemu keluarga. Jadi tidak sempat untuk datang belajar apalagi untuk menghafal dan mengerjakan tugas. Demikian syaikh, mohon dimaklumi.

Guru :      Wahai muridku....Tidak apa-apa, itu adalah pilihan yang engkau telah ambil. Hanya saja, menurutku, engkau bukannya tidak sempat. Tetapi engkau lebih memprioritaskan hal lain daripada untuk belajar...Itu saja....jika engkau mengutamakan pelajaran ini, tentu engkau akan lebih memilih hal ini dari pada harus lembur, atau bisa menyediakan sebagian waktu di akhir pekanmu atau tetap berusaha untuk menyempatkan diri untuk hal ini.

Murid :        (Terdiam)


Cerita di atas memberi pesan bahwa tidak sempat itu hanya sebuah alasan saja. Seseorang tidak sempat karena memang menganggap sesuatu itu tidak penting dibandingkan yang lain sehingga dia tidak sempat melakukannya.  Mungkin ada yang  pernah mengalami atau mungkin sering menghadapi beberapa hal yang harus diselesaikan, dan dia harus memilih untuk menyelesaikan sebagian dan meninggalkan yang lainnya. Dan biasanya alasannya adalah "tidak sempat". Tidak sempat karena memang bukan prioritas.


Misalnya seorang karyawan merangkap mahasiswa. Dia harus bekerja, belum kalau lagi sibuk-sibuknya di tempat kerja. Di sisi lain dia mesti berkutat dengan banyaknya tugas kuliah. Belum harus meninggalkan waktu buat main sama teman-temannya, jalan sama pasangan, atau waktu berkumpul buat keluarga. Hidup adalah pilihan, dan kadang kita harus dipaksa untuk memilih mana yang lebih prioritas dan mana yang kurang prioritas. Dan ketika kuliah yang jadi kurang prioritas, alasannya adalah tidak sempat. Bukan sesuatu yang  pasti buruk, karena itu pilihan masing-masing. Semua tergantung dari apa yang dia prioritaskan.
  
Pernah saya mendapati seorang mahasiswi yang sudah hamil 9 bulan masih sempat mengikuti ujian. Itu kalo tiba-tiba lahiran saat lagi ujian apa nggak repot ya....Dan pernah pula saya dapati mahasiswa dengan wajah pucat dan badan masih lemes tetap nekat mengikuti ujian. Ternyata habis sakit tipes. Saya menyarankan ikut ujian susulan saja, biar lebih fit dan hasilnya lebih optimal, tapi kekeuh ga mau. Nah...bisa jadi, ujian bagi mereka itu adalah prioritas, sehingga dalam kondisi apapun harus sempat.

Saya jadi inget, pas saya masih kecil dulu kalau tidak salah pas kelas 2 atau 3 SD. Saya adalah penggemar yang namanya wayang kulit. Mungkin memang sejak dari kecil, dikenalkan dan dibiasakan dengan hal itu. Dulu pas ada tetangga punya hajatan hiburannya wayang kulit, Saya nonton pagelaran wayang kulit mulai dari jam 1 malam sampai selesai kurang lebih pas subuh. Padahal paginya ada ujian....entah itu mungkin kalau bahasa anak sekarang hal yang absurd.  Tapi ya begitulah adanya. Saya lebih memproritaskan nonton wayang kulit daripada belajar. Mungkin kalau anak sekarang ada yang lebih memilih main Play Station pas besoknya ujian, atau memilih nonton di bioskop padahal besoknya ujian, karena mungkin filmnya memang lagi bagus. Lagi-lagi ini masalah prioritas.

Itu dalam ujian dan perkuliahan. Lalu bagaimana dengan seorang muslim yang tidak sempat shalat, atau tidak sempat shalat berjamaah...,bahkan tidak sempatnya itu rutin alias konsisten kecuali hari Jumat siang. Atau tidak sempat bersedekah, tidak sempat mengunjungi dan berbuat baik pada orang tuanya, bahkan untuk berdo'a pun tidak sempat. Jangan-jangan hal-hal tadi memang bukan prioritas. Dikalahkan oleh hal-hal lain yang lebih menjadi prioritas. Semua tergantung maisng-masing orang. Nilai-nilai apa yang dia pegang, orientasi hidupnya ke mana, dan ujungnya adalah sebuah pertanyaan besar..."Apa yang kita cari di dunia ini?".

Nah, sebentar lagi bagi yang muslim, kita akan kedatangan bulan yang agung, bukan penuh berkah, penuh ampunan, bulan obral pahala. Adakah yang akan tidak sempat shalat berjamaah tepat waktu...tidak sempat bersedekah...tidak sempat mengkhatamkan membaca Al Qur'an minimal satu kali....tidak sempat shalat malam.....apalagi tidak sempat puasa..... Semua lagi-lagi tergantung apa yang kita prioritaskan dan akan berujung pada apa yang mau kita cari di dunia ini.













Sabtu, 14 Mei 2016

...''TONE AT THE TOP"...




Tone at the top..., artinya kurang lebih adalah sikap, kebijakan, ritme atau gaya dari seorang pemimpin. Nah...tone at the top ini sangat berpengaruh terhadap suatu organisas, baik sektor swasta apalagi sektor pemerintah. Bahkan di sektor pemerintahan lebih dibutuhkan pemimpin yang benar-benar bisa mengubah ke arah yang lebih baik, mengubah mind set dilayani menjadi melayani, dan benar-benar menjadi pelayan publik, serta tetap sesuai dengan koridor peraturan yang berlaku.

Pun demikian dengan pengadaan barang/jasa pemerintah (PBJ). Sebagian besar perkara korupsi di tanah air ini adalah perkara PBJ. Dan ironissnya lagi yang menjadi tersangka tidak jarang adalah pucuk pimpinannya sendiri, entah menteri...entah gubernur..bupati...walikota...kepala dinas..... Padahal pemimpin adalah yang seharusya memberikan contoh kebaikan. Jika pemimpinnya seperti itu, bagaimana yang dipimpinnya?. Tone at the top mempengaruhi apa yang ada di bawahnya. Pemimpin akan dianut oleh anak buahnya...seorang pemimpin akan mempengaruhi bagaimana organisasi yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya sudah koruspi, atau dia membuat atau mempengaruhi lingkungan/kondisi/suasana atau mungkin sistem yang memudahkan untuk melakukan korupsi, maka kemungkinan besar instansi itu menjadi bobrok. Tak heran jika COSO sebagai salah satu best practice pengendalian internal, salah satu komponennya adalah lingkungan pengendalian. Nah dalam lingkungan pengendalian itulah, peran dari pemimpin cukup besar.

Saya sempat mendengarkan cerita bernada "curhatan semi keluhan" dari teman di Inspektorat salah satu kabupaten/kota (Inspektorat adalah auditor internal di pemerintahan).  Dia bercerita, di kabupaten/kota dia, untuk proyek pengadaan barang/jasa lewat penyedia, mesti lapor bupati. Jika melalui swakelola lapor wakil bupati. Ternyata memang sang bupati dan wakilnya ada kepentingan di situ untuk "main" dalam proses tendernya. Wah duet maut bener nih saya bilang. Mungkin saat nyalon bupati, modalnya banyak jadi mesti minimal mbalikin modal plus keuntungan sekian persen..(Lhoh jadi dagang ya... kok nyari untung)....Kalau sudah pimpinan seperti itu, biasanya anak buahnya responnya macem-macem. Mungkin ada yang ,alah jadi pengikut setia, mendapat bagian, posisi aman, Pokoknya Asal Bapak Senang. Mungkin ada yang tidak setuju tapi tidak berani mengingatkan karena risikonya mungkin besar. Atau mungkin ada yang berani tapi siap-siap untuk paling tidak ditempatkan di unit kerja yang kering...(gurun pasir kali ya..).

Nah, kawan saya ini juga akhirnya nggak bisa apa-apa. Ini berartinya fungsi Aparat Pengawas Internal Pemerintah alias APIP alias internal auditornya pemerintah nggak jalan fungsinya. Karena apa, karena pimpinannya. Nah kalau APIP saja nggak jalan, gimana...padahal APIP fungsinya untuk mengawasi efektivitas pengendalian internal pemerintah dan kalau dalam cerita tadi adalah pengadaan barang/jasa. Lagi-lagi ini tentang tone at the top, tentang bagaimana seorang pemimpin memberi warna terhadap instansi yang dipimpinnya.

Lain lagi kalau cerita yang ini. Sekitar 1,5 bulan yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk melihat-melihat dan belajar tentang bagaimana kebijakan salah seorang bupati di daerah Pantura sana. Ada beberapa kebijakan yang saya rasa  cukup menarik dan menjadi terobosan baru, khususnya dalam membenahi birokrasi dimana di dalamnya terdapat tentang pengelolaan pengadaan barang/jasa. Dan saya juga dapat cerita dari kawan ULP dari sanatentang kebijakan-kebijakan beberapa hal khususnya dalam pengelolaan pengadaan barang/jasa.  

Cerita pertama yang menarik adalah, ternyata Pak Bupati itu pada awal-awal menjabat mengajak anak buahnya untuk piknik....Wah enak bener nih, awal menjabat langsung piknik...mungkin ada benarnya juga...agar nggak pada kurang piknik. Nah, pikniknya kemana?...ternyata ke salah lembaga pemasyarakatan alias LP. Disitu masing-masing disuruh masuk ke salah satu ruangan dan merasakan bagaimana nikmatnya tinggal disitu. Dan bupati berpesan, kalau nggak mau tinggal disitu, kerja yang bener dan jangan sekali-kali korupsi. Sebuah shock terapy yang saya rasa cukup bagus di awal-awal Pak Bupati memimpin.

Nah, bagaimana dengan kebijakan di PBJ sendiri? Pak Bupati sudah berkomitmen tidak akan mencampuri urusan per-tender-an, Pokoknya itu sudah menjadi ranahnya ULP. Bahkan beliau sendiri membuat semacam surat pernyataan yang intinya beliau tidak campur tangan urusan tender, melarang penyedia barang/jasa memberikan apapun ke bupati baik langsuing atau lewat keluarga dan memberikan apapun ke pihak-pihak yang terkait dengan pengadaan. Surat pernyataan itu ditandatangani, diperbanyak dan disebar di seluruh satuan kerja sehingga semuanya tahu. Jadi kecil kemungkinan akan ada penyedia nakal masuk, membawa-bawa nama bupati. Kebijakan yang lain adalah saat penyedia sudah menang. Pak Bupati mengundang langsung penyedia yang menang dan beliau menyerahkan surat yang isinya antara lain:
  • Penyedia menang secara fair
  • Penyedia tidak boleh memberikan apapun kepada pihak-pihak yang terkait dengan PBJ
  • Penyedia harus mengerjakan pekerjaan sesuai kontrak
  • Jika menyalahi kontrak atau melakukan tindakan suap dll, maka harus siap dengan konsekuensinya.
Biasanya ketika mengundang penyedia, diundang pula pihak Polres dan Kejaksaan Negeri, sehingga benar-benar mengeaskan komitmen untuk bekerja sebaik-baiknya dan tidak akan ada yang namanya tindakan nakal untuk main curang mengurangi volume atau mengurangi kualitas material dan pekerjaan. Dalam proses pekerjaanpun, khususnya pekerjaan fisik, Pemda bekerja sama dengan salah satu universitas untuk memastikan kualitas pekerjaan melalui uji laboratorium. Segala tindakan-tindakan ini adalah dalam rangka untuk pengadaan yang benar-benar kredibel sekaligus bisa bermanfaat bagi kesejahteraan masyarkat. Ketika membangun pasar, bangunannya memang berkualitas, ketika membangun jembatan dan jalan juga seperti itu. Infrastruktur mencukupi, maka perekonomian menjadi lebih mudah di tata. Dan ini salah satunya adalah dengan tadi...Tone at the top.

Salah satu kebijakan Pak Bupati yang saya merasa salut adalah, kewajiban untuk menghentikan segala aktivitas pada saat jam shalat dhuhur dan ashar. Bagi pegawai muslim wajib shalat berjama'ah. Mungkin ini tidak terkait langsung dengan menata sistem birokrasi, tetapi saya termasuk yang percaya bahwa Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Korupsi adalah termasuk perbuatan keji dan munkar, dan itu adalah salah satu tindakan preventif untuk mencegah tindakan korupsi dan perbuatan lain yang semisal. Nah..terus para koruptor itu juga shalat tuh.... Itu yang salah bukan shalatnya tapi manusianya.Bahkan orang yang shalat pun masih terancam kok. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan riya' dalam shalatnya...Wah jadi membahas shalat. Intinya adalah, perbaikan bangsa ini tidak hanya dari sistem, tapi juga dari personal orangnya. Bayangkan juga semua pegawai di negeri ini takut akan neraka, yakin bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, apakah masih berani untuk korupsi....
Semoga di era otonomi daerah ini, lebih banyak terpilih pemimpin-pemimpin yang ada pada cerita nomor dua, dibandingkan cerita yang pertama. Lebih banyak pemimpin yang amanah. Karena bagaimanapun juga, pemimpin adalah pemberi contoh yang diteladani sekaligus pemikul amanah yang berat. Bagus tidaknya instansi salah satunya dipengaruhi oleh siapa dan bagaimana pemimpinnya.











Selasa, 10 Mei 2016

TENTANG INDUSTRI DI INDONESIA

Ingat dengan penggalan lirik sebuah lagu dari Iwan Fals, Ujung Aspal Pondok Gede


 "Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari
Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali"




Memang itu hanya sebuah lagu...tapi seperti lagunya Om Iwan pada umumnya, selalu berisi kritik sosial dari fenomena-fenomena yang ada. Yang menarik dari penggalan syair lagu tersebut adalah mengapa adanya pabrik baru kok ditanggapi dengan nada resah? Ada apa gerangan? Mungkin penggalan syair tersebut dapat diterjemahkan ke bahasa yang lebih lugas menjadi pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
  • Sudahkah negara kita ini menjadi negara industri?
  • Mengapa harus menjadi negara industri?
  • Sudahkah industri ini punya daya saing dengan negara-negara lain?
  • Sudahkah industri kita tahan terhadap yang namanya krisis ekonomi?
  • Sudahkan industri kita melibatkan sektor-sektor lain khususnya sektor pertanian?
  • Pertanyaan terakhir...apakah pembangunan industri selama ini berdampak bagi kesejahteraan rakyat?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya menggambarkan tentang suatu harapan/keinginan tentang "industri yang sebaiknya atau seharusnya" sehingga industri tidak dianggap resah oleh sebagian kaum yang merasa terpinggirkan oleh kehadiran industri.
Apakah Indonesia Negara Industri?
Sudahkah kita menjadi negara industri? atau paling tidak apakah Indonesia mengarah menjadi negara industri? Jawaban paling mudah adalah dengan melihat data peran sektor industri dalam perekonomian. Berapa porsi PDB yang dihasilkan oleh sektor industri terhadap total PDB, lebih tinggi tidak dibandingkan dengan sektor lain? Nah, katanya BPS nih...sektor industri menjadi sektor paling penghasil PDB paling besar dibandingkan sektor-sektor lain. Sektor lain itu antara lain sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor jasa-jasa dll. Nah kondisi tersebut menjadi sinyalemen bahwa Indonesia sudah atau sedang berproses menjadi negara industri. 

Sebenarnya lebih mantab lagi kalau didukung dengan bagaimana penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Jika sektor industri menyerap tenaga kerja paling banyak dibandingkan sektor-sektor yang lain berarti semakin menegaskan bahwa negara kita adalah negara industri. Namun menurut data dari BPS, ternyata tenaga kerja Indonesia sebagian besar masih berkutat di sektor pertanian bukan terserap di sektor industri. Tenaga kerja di sektor industri tidak sampai separuh tenaga kerja yang bergerak di sektor pertanian. Bahkan tenaga kerja sektor industri masih lebih sedikit dari tenaga kerja di sektor perdagangan. Hal ini berarti bahwa Indonesia masih belum sepenuhnya menjadi negara industri, atau jangann-jangan industri yang dibangun masih belum bisa menyerap banyak tenaga kerja, atau memang tenaga kerjanya yang kurang memenuhi kriteria untuk bekerja di sektor industri. Dugaan-dugaan yang perlu dikaji lebih lanjut.

Mengapa negara Industri?
Nah..pertanyaan selanjutnya, mengapa harus industri, mengapa bukan pertanian atau kelautan, atau pertambangan atau sektor lain? Bukankah negara kita negara yang kaya akan hasil bumi, barang tambang banyak dan kekayaan laut melimpah. Mengapa yang dikembangkan adalah sektor industri? Nah menurut para ahli ekonomi, nilai tambah di sektor industri lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian maupun pertambangan. Sektor industri juga lebih bisa dikendalikan dibandingkan sektor pertanian yang beberapa komoditas masih tergantung pada musim. Pendapat ini cukup masuk akal dan bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. 

Contoh sederhana saja: 
mari kita bandingkan harga 1 kg singkong mentah, dengan 1 kg singkong goreng di tukang gorengan, sama harga 1 kg keripik singkong maicih. Tak perlu pake survei, semua orang juga tahu bahwa pasti yang disebutkan terakhir paling mahal dan yang disebutkan paling awal itu yang paling murah. Atau contoh lain: pohon kayu, dibandingkan kayu batangan, dibandingkan dengan barang mebel, tentunya harganya juga beda. Ini menunjukkan bahwa barang hasil olahan (barang industri) lebih mahal atau dengan kata lain nilai tambahnya lebih tinggi dibandingkan barang yang langsung dari alam. Nilai tambah yang tinggi ini secara umum juga menggambarkan ongkos bagi tenaga kerjanya. Upah di sektor industri secara umum lebih tinggi dibandingkan upah di sektor pertanian. Dengan demikian, dengan adanya tenaga kerja yang terserap di sektor industri, tingkat kesejahteraan menjadi meningkat. Itu sebenarnya harapan dengan adanya pembangunan di sektor industri

Apakah Industri kita Memiliki Daya Saing?
Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, jika kita mau membangun industri, kira-kira barang hasil industri kita laku atau tidak, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ingat, di era perdangan bebas saat ini, daya saing mutlak diperlukan agar kita tidak menjadi bangsa konsumtif. Indikatornya bisa dilihat dari berapa permintaan barang produksi dalam negeri baik permintaan domestik dan permintaan luar negeri. Daya saing di sini bukan berarti kita harus memaksakan diri bersaing dengan negara lain untuk barang yang sama. Jika kita ingin bersaing dengan Jepang untuk teknologi otomotif jelas berat..bahkan sangat berat. Namun kita bisa mengembangkan produk yang negara-negara lain tidak punya atau belum mengembangkannya, atau kita memang mempunyai keunggulan di situ, misalnya agroindustri (industri dengan bahan baku dari sektor pertanian) atau industri dari bahan dasar hasil laut. Bukankah kita kaya akan sumber daya itu.

Apakah Industri Kita sudah Tahan terhadap Krisis ekonomi? 
Sebagai salah satu konsekuensi dari adanya globalisasi ekonomi adalah risiko adanya krisis ekonomi global. Krisis ini bisa mempengaruhi perekonomian dalam negeri termasuk sektor industri. Industri yang paling berpengaruh tentu adalah industri yang sebagian besar transaksinya adalah berupa ekspor dan impor. Hal yang perlu diperhatikan tentunya adalah tindakan antisipatif ketika ada gejala resesi ekonomi dunia, serta membangun pasar domestik yang kuat sehingga ketergantungan terhadap perdagangan luar negeri bisa dikurangi.

Sudahkah ada Keterkaitan erat antara Sektor Industri dengan Sektor Lain?
Indonesia dari dulu dikenal sebagai negara agraris, sebagai penghasil produk pertanian. Selain itu Indonesia juga memiliki potensi laut yang besar dan barang tambang yang melimpah. Alangkah bagusnya jika bahan mentah tersebut tidak langsung diekspor tetapi diolah menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Memang perlu modal yang besar untuk itu dan perlu penguasaan teknologi dan tentu saja tenaga kerja yang berkualitas. Namun dengan mendayagunakan sektor-sektor esktraktif seperti pertanian dan pertambangan maka akan lebih mengoptimalkan sektor industri dan mengoptimalkan peran sektor-sektor lain dalam mendukung sektor industri.

Sudahkah Pembangunan Industri selama ini berdampak pada kesejahteraan rakyat?
Nah ini sebenarnya pertanyaan terakhirnya. Mau industri mau pertanian, mau pertambangan mau perdagangan, itu adalah masalah cara. Endingnya adalah bagaimana rakyat bisa sejahtera. Nah sudahkah kehadiran industri memberikan dampak bagi kesejahteraan rakyat,,, malah ditanggapi dengan nada ''resah'' seperti penggalan lagu di atas.

Saya sempat membaca beberapa penelitian tentang kaitan antara industrialisasi dengan kemiskinan di Indonesia di beberapa daerah. Ternyata hasilnya cukup bervariasi. Ada yang berpengaruh negatif, artinya kehadiran industri dapat mengurangi kemiskinan. Ada yang berpengaruh negatif tetapi tidak begitu signifikan, artinya kehadiran industri berdampak dalam mengurangi kemiskinan tetapi tidak begitu signifikan. Bahkan ada yang justru malah membuat kemiskinan meningkat. Nah ini bisa jadi ada yang salah dengan kehadiran industri. Dan hal itu perlu diteliti lagi mengapa bisa membuat kemiskinan meningkat. Memang kehadiran industri tidak serta merta berdampak dalam jangka pendek, mungkin bisa dalam waktu tahunan bahkan puluhan tahun baru terlihat dampaknya.

Kemarin sempat ngobrol dengan kawan di instansi di Kementerian Perindustrian. Katanya beliau, dan beliau ini juga dapat bocoran para ahli-ahli yang sedang memikirkan bagaimana industri kita ke depannya terutama untuk menghadapi pasar bebas. Nah, katanya....industri kita ini bagus di hulu dan hilir, tapi bolong di tengah... Maksudnya gimana...Kita bisa memproduksi barang mentah, tapi barang mentah tersebut kita belum maksimal mengolahnya menjadi barang setengah jadi, walhasil sebagian besar barang mentah itu langsung diekspor. Setelah diolah di luar negeri menjadi barang setengah jadi, barulah barang tersebut kita impor untuk kita olah menjadi barang jadi. Barang jadi tersebut bisa kita ekspor atau bisa untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kondisi ini agak mengkhawatirkan ketika terjadi resesi ekonomi global. Resesi ekonomi menyebabkan permintaan barang mentah dari luar negeri menurun, sehingga penerimaan dari sektor yang menghasilkan barang mentah juga menurun. Di sisi lain, resesi jika diiringi dengan kurs rupiah yang melemah menyebabkan naiknya harga barang impor. Padahal kita membutuhkan barang setengah jadi dari luar negeri sebagai bahan baku. Kena deh dari dua sisi. Ini yang katanya sedang diperbaiki.

Mungkin itu adalah salah satu tantangan dalam industri, di samping beberapa tantangan sebagaimana dalam pertanyaan-pertanyaan di atas. Selain itu juga dari willingness pemerintah dan kesadaran dari rakyatnya sendiri. Masalah ego sektoral atau lebih pasnya adalah "kurang koordinasi" terkadang muncul, antara instansi yang mengurusi industri dengan yang mengurusi pertanian, perdagangan dan yang lainnya. Selain itu juga kesadaran dari rakyat itu sendiri bahwa industri itu hadir untuk mensejahterakan mereka. Kita sering mendengar, susahnya pembebasan lahan untuk industri atau penolakan-penolakan yang kadang disertai dengan kericuhan. Ini yang perlu dicari titik temunya, di mana rakyat itu sebenarnya juga mencicipi kesejahteraan dengan adanya industri, bukan malah tersingkirkan. Atau dengan kata lain, industri dengan tetap mengusung ekonomi kerakyatan...bukan ekonomi kapitalisme dimana yang punya modal besar dialah yang menang.