Sabtu, 16 Januari 2016

TRANSFORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN

Bicara tentang perekonomian, lebih spesifik lagi tentang pembangunan ekonomi, tidak lepas dari apa yang disebut dengan Transformasi Struktural Perekonomian. Teori ekonomi menyatakan bahwa proses pembangunan ekonomi akan diiringi adanya perubahan struktur dari perekonomian. Terdapat beberapa teori misalnya dari Arthur Lewis dan Chennery yang membahas hal tersebut. 

Lantas apa yang berubah dari struktur perekonomian seiring dengan proses pembangunan ekonomi. Hal yang paling dapat dilihat adalah dominasi sektor dalam perekonomian. Jika sebelumnya perekonomian didominasi sektor pertanian, maka seiring dengan pembangunan ekonomi, sektor industri akan menggantikan dominasi sektor pertanian. Jika kita lihat di Indonesia semenjak periode Orde Baru sampai saat ini, secara kasat mata, bisa dilihat bahwa industri-industri sekarang mulai berkembang menggeser sektor pertanian. Lahan pertanian mulai menyusut dan pabrik-pabrik mulai didirikan.Jika dilihat dari mata pencaharian, jika dilihat pada tahun 70 ataun 80-an, petani adalah yang terbanyak. Jika kita lihat sekarang, jumlah penduduk yang bemata pencaharian sebagai petani semakin menurun dan mulai diganti dengan mata pencaharian selain petani.
Teori Arthur Lewis dan Chennery
Mengapa bisa bergeser dari pertanian ke sektor Industri?..bukankah kita adalah negara  agraris dan mengapa harus bergeser  ke sektor industri?. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menengok sedikit teori yang dikemukakan oleh Arthur Lewis. Tokoh ini menyederhanakan perekonomian menjadi 2 sektor yaitu sektor pertanian (sektor tradisional) dan sektor industri (sektor modern).

Sektor tersebut punya perbedaan-perbedaan yang mencolok sebagai berikut.
  1. Sektor pertanian mempunyai tenaga kerja berlebih, sementara sektor industri yang sedang berkembang membutuhkan tenaga kerja.
  2. Sektor pertanian mempunyai tenaga kerja yang berlebih karena cara kerja statis, lahan pertanian tetap sementara tenaga kerja pasti bertambah banyak. Sementara sektor industri cenderung ada inovasi-inovasi cara kerja 
  3. Sektor pertanian produknya berupa barang primer yang nilai tambahnya lebih kecil dibanding barang manufaktur serta tenaga kerja yang terus  bertambah berdampak pada tingkat upah di sektor pertanian yang lebih kecil dibandingkan sektor industri. 
  4.  Kesenjangan dari sisi jumlah tenaga kerja, karakter output barang, dan perbedaan tingkat upah  membuat tenaga kerja yang berlebih di sektor pertanian berpindah ke sektor industri.
  5. Perpindahan sebagian tenaga kerja tersebut, berdampak pada peningkatan produktivitas di sektor industri karena mendapat tambahan tenaga kerja dari sektor pertanian. Tenaga kerja dari sektor pertanian tersebut juga meningkat pendapatannya karena tingkat upah yang lebih tinggi di sektor industri. 
  6. Peningkatan pendapatan, akan meningkatkan konsumsi termasuk permintaan di sektor pertanian dan sektor industri. meningkatnya permintaan akan membuat produsen berusaha memenuhi permintaan tersebut sehingga produktivitas lebih meningkat. Peningkatan inilah yang disebut dengan pertumbuhan ekonomi dan memang salah satu sasaran dari pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi.
Jadi, dalam pembangunan ekonomi terutama dalam jangka waktu yang panjang, akan terjadi pergeseran dari sektor pertanian  ke sektor industri. Hal ini juga dibuktikan oleh ahli bernama Hollis Chenerry yang meneliti di banyak negara di masa tahun 70-an. Hasilnya ternyata memang terjadi transformasi struktural khususnya pergeseran dari sektor pertanian ke sektor industri. Dan Indonesia sendiri dalam beberapa sisi mengalami pergeseran tersebut. Dengan demikian pergeseran ini adalah sesuatu yang terjadi di sebagian besar negara. Hal ini juga didasari adnaya pendapat bahwa untuk mengembangkan ekonomi secara cepat harus mengembangkan sektor industrinya karena sektor industri lebih mempunyai nilai tambah dan secara karakter tidak tergantung pada musim, berbeda dengan sektor pertanian yang tergantung pada musim.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah berarti dengan adanya transformasi struktural, pembangunan ekonomi telah berhasil? Jawabannya belum tentu. karena pergeseran tersebut hanya sebagai salah satu peristiwa yang mengiringi adanya pembangunan ekonomi. Bisa jadi menunjukkan keberhasilan, bisa jadi itu hanya sekedar proses yang mengiringi tapi tidak bermakna apa-apa terhadap pembangunan ekonomi. Kita bisa beranalogi dengan pemahaman orang tua kita jaman dulu....ketika anak kecil itu badannya panas atau masuk angin, itu biasanya anak tersebut akan tambah pinter. Mungkin bisa benar, tapi bisa jadi anak kecil tersebut memang sedang dalam kondisi sakit. Demikian pula dengan teori transformasi struktural dimana pergeseran dari sektor pertanian ke sektor industri harus berdampak tidak hanya terhadap pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga pemerataan pendapatan.

Kelemahan Teori Transformasi Struktural

Dari pembahasan di atas dan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari  teori Arthur Lewis, antara lain:

  1. Teori ini berasumsi bahwa tenaga kerja bisa berpindah dengan mudah ke dari sektor pertanian ke sektor industri. Padahal dalam dunia nyata, sektor industri membutuhkan tenaga kerja yang lebih berkuliatas. Seandainya memang bisa menyerap banyak tenaga kerja, tentu industri yang bersifat padat karya bukan padat modal.  Ini yang dalam beberapa penelitian terjadi di Indonesia. pergeseran sektor memang terjadi, namun perpindahan tenaga kerja sektor pertanian ke sektor industri tidak se-massive pergeseran dominasi sektor pertanian ke sektor industri.
  2. Teori ini tidak bisa menjelaskan tentang  sektor-sektor lain, khususnya sektor informal, dengan kata lain teori ini terlalu menyederhanakan kondisi riil yang ada.
  3.  Proses urbanisasi dan industrialisasi sebagai bentuk transformasi struktural terkadang menimbulkan permasalahan sosial dan ketidakberpihakan  kepada petani serta memperlebar ketimpangan.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar