Senin, 04 April 2016

MAKHLUK "NGGRAGAS"

Makhluk nggragas ....Makhluk jenis apakah ini? Sebelumnya saya akan memulai dengan definisi kata "nggragas" itu, supaya pembahasan selanjutnya lebih bisa dipahami. Sampai saat ini pun sebenarnya saya belum menemukan kata dalam bahasa Indonesia yang semakna dengan kata "nggragas". Kalau dalam bahasa lain saya memang males nyarinya heheh...

Kata ini  berasal dari bahasa Jawa, yang kurang lebih bermakna: pemakan segalanya, apapun dimakannya, tidak perduli itu halal atau haram, baik atau buruk mentah atau mateng, tidak peduli itu punya siapa, pokoknya sikaaat!!! Begitulah kira-kira makna dari nggragas.

Nah, makhluk nggragas macam apa yang akan kita bahas...makhluk sekenis omnovora kah? tentu saja bukaan...Yang dimaksud makhluk nggragas di sini adalah makhluk keturunan Adam alias manusia. Lho..memang ada makhluk seperti itu?...Tentu saja ada...Bukankah koruptor-koruptor itu termasuk makhluk nggragas?...Harta yang bukan haknya kok tetap diembat juga. Mau yang level M-M-an, atau T-T-an, jutaan, yang ribuan, yang ketahuan atau tidak, yang ketangkep KPK atau tidak. Namanya nggragas tetep nggragas.
Contoh, ada seorang staf kantor bernama "Sastro Dimpil". Dia diberi duit sama bosnya untuk menggandakan dokumen dokumen di luar. Namun biaya cetak per eksemplar yang harusnya 50 ribu, dinaikkan sama si Sastro Kerok ini menjadi 100 ribu per eksemplar di kuitansi pembayaran yang tentunya sudah kongkalikong sama si percetakannya. Jika yang dicetak 50 eksemplar, lumayanlah dia dapat 2,5 juta. Ini mungkin makhluk nggragas di level ecek-ecek, nggak nyampe level puluhan juta.

Ada cerita lagi, saking nggragasnya, kadang ada orang yang sampai makan semen, makan aspal, makan besi....Gimana ceritanya kok bisa begitu. Ini biasanya untuk proyek-proyek bangunan atau konstruksi. Bangunan yang harusnya membutuhkan 100 sak semen, cuma dikasih 80 sak semen, yang 20 sak disikat. Besi yang harusnya diameter 1 cm, diganti menjadi lebih rendah, 7mm. Aspal yang harusnya ketebalan misalnya 5 senti, "dikreketi" sampai ketebalannya tinggal 3 senti. Nah coba kalau jalannya panjang beribu-ribu kilometer apa nggak kenyang "ngreketi" aspal segitu banyaknya.

Di lingkungan birokrasi, ...menurut cerita, alias konon katanya,...masih ada juga makhluk-makhluk nggragas kaya gini bahkan banyak. Meski memang dengan era keterbukaan sekarang, populasinya sudah mulai berkurang.

Ada beberapa cara/metode/teknik nggragas. Jiaaah...nggragas aja ada tekniknya....Teknik yang paling umum adalah, perjalanan dinas fiktif, kuitansi fiktif untuk ATK, pencetakan dokumen dan jamuan makan. Teknik ini tidak gampang ketahuan saat proses audit karena memang volumenya dikit-dikit tapi sering. Kenapa demikian, karena ATK, jamuan atau pencetakan adalah barang habis pakai, jadi kalau dicek atau diaudit, mana barangnya?? ya udah dipakai. Sedikit tapi rutin...sama aja jadi banyak... Jadi jangan heran jika masih ada makhluk lagi ngrikiti pensil...atau lagi ngunyah-ngunyah kertas, atau lagi nggigit-nggigit stapler (mau nyaingin debus kali). Mereka memperoleh duit dari sesuatu yang fiktif, di kuitansi bilang beli pensil, kertas atau ATK yang lain...tapi barangnya nggak pernah ada..lantas duitnya yang disikat masuk kantong. Masuk kantong aja udah dosa, apalagi nanti masuk mulut terus ke perut ya...

Saat ini, memang terus ada perbaikan sistem agar makhluk-makhluk nggragas ruang geraknya makin dipersempit. misalnya dengan adanya KPK, sistem pencatatan untuk persediaan yang lebih diperketat, pengawasan internal yang diperkuat, proses yang lebih transparan dll. Tapi namanya sistem, kalau makhluk nggragasnya itu nggak tobat-tobat sebelum datangnya sekarat, tetep aja celah itu masih ada, malah nanti nularin penyakit nggragasnya ke yang lain. Ini yang juga yang harusnya perlu diperhatikan..Tidak hanya perbaikan sistem, tapi manusianya sendiri secara mental mesti dperbaiki agar tidak menjadi makhluk nggragas.

Jadi ingat sebuah hadist riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah, yang kurang lebih artinya adalah "Akan datang suatu zaman seseorang tidak memperdulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari sumber yang halal atau pun haram" ...nah kayanya memang sekarang sudah zamannya. Sebagian dari kita sudah tidak peduli lagi yang haram dan yang halal. Tidak memperdulikan di sini bisa bermakna 2, yaitu:
  • yang pertama sudah tahu halal dan haram tapi tetap aja nekad nyikat yang haram. Ini ibarat udah tahu lampu merah itu berhenti tetep aja nylonong. 
  • Nah yang kedua dia tidak pernah perduli untuk belajar dan mengetahui mana yang halal dan haram. Ibarat pengguna kendaraan bermotor dia nggak pernah mau tahu apa arti lampu lalu lintas dan rambu-rambu.
Dua-duanya tetap dikenai tilang, dalam dalam konteks hadist tadi  dua-duanya tetap tergolong tidak memperdulikan dari mana hartanya diperoleh.
 
Padahal kalau kita lihat hadist yang lain, disebutkan bahwa orang yang makanan, minuman dan pakaiannya dari yang haram,  terancam do'anya tidak dikabulkan Allah...Duuh, kalau sudah tidak dikabulkan...kita mau gimana, kepada siapa lagi kita memohon.....Dan jarene simbah, nyarilah nafkah yang halal, apalagi itu diberikan ke anak istri...Bayangkan seandainya kita memberi makan mereka dengan harta haram, seperti sedang menyuapi mereka dengan bara api neraka...na'udzubillah.

2 komentar:

  1. Betul Mas, masih ada makhluk2 itu disekitaran kita...di tempat pelayanan publik walau wis onok Saber Pungli tetep aja ada yg meminta dg berbisik....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kelihatannya makhluk-makhluk itu maupun yang ingin jadi makhluk itu, perlu diyakinkan lagi kalau ada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat Pak....

      Hapus