Minggu, 21 Februari 2016

POWER OF "GALAU"

Sekali-sekali judulnya memakai bahasa Inggris, mengingat tahun 2016 adalah tahun MEA...(padahal tidak ada hubungannya sama sekali). Galau...kata yang sempat menjadi trend akhir-akhir ini. "Galau" yang saya maksud disini adalah rasa khawatir, gelisah, resah, takut akan hal-hal yang buruk yang berpotensi terjadi. Nah..kalau diamati, ternyata rasa galau terkadang bisa menimbulkan kekuatan yang kadang kita tidak menyadarinya...kok bisa?

Bermula ketika kemarin saya shalat ashar masjid dekat dengan kampus yang dulu saya sempat belajar di sana. Alhamdulillah jama'ahnya cukup banyak. Lebih dari separuh masjid terisi jama'ah. Cukup banyak untuk ukuran shalat ashar. Saya katakan cukup banyak, karena biasanya tidak sebanyak itu, bahkan di masjid tersebut. Ada apa ya?....lantas saya baru ingat...Ooh, ternyata lagi sedang ada Ujian Akhir Semester di kampus

Saya jadi ingat dulu ketika saya masih belajar di kampus itu. Fenomena yang muncul adalah, jama'ah shalat biasanya lebih banyak pada saat ada ujian baik UTS maupun UAS. Dan ternyata masih ada sampai sekarang. Bukan maksud mengotak-atik motivasi dan niat mereka untuk shalat berjama'ah, namun itulah yang saya lihat. Kebetulan di kampus itu, yang namanya ujian entah UTS ataupun UAS selalu menjadi momok, Sesuatu yang dianggap menentukan nasib mereka. Jika tidak mencapai IP minimal tertentu, atau pada mata kuliah tertentu nilainya di bawah batas minimal, ada peraturan akan terkena Drop Out alias DO, alias tereliminasi dari kampus.

Rasa khawatir jika terkena DO ini yang ternyata bisa membuat mereka seperti punya kekuatan dan alhamdulillah menyalurkannya ke hal-hal yang positif seperti shalat berjama'ah, belajar kelompok, koleksi kisi-kisi ujian yang kadang sumbernya nggak jelas dan lain-lain. Mereka merasa bahwa saat itu mereka membutuhkan pertolongan Allah untuk bisa melewati ujian. Selain itu biasanya mereka akan belajar dengan segenap kemampuan agar bisa lulus ujian dan tidak pernah berpikiran untuk membuat "kepekan" alias nyontek. Konsekuensinya adalah jika ketahuan, akan malu seumur hidup, karena terkena DO dengan sebab ketahuan nyontek. Sekali lagi  rasa khawatir itu membuat mereka melakukan hal-hal yang bisa jadi itu sesuatu yang sangat berat dilakukan jika tanpa ada kekhawatiran itu.

Saya jadi ingat juga dengan orang-orang yang sedang menunggui keluarganya yang sedang dirawat di rumah sakit, apalagi ketika yang ditunggu dalam kondisi kritis. Mereka menunggui selama beberapa hari, dalam semalam mungkin tertidur cuma 1 atau 2 jam, itupun dengan kualitas tidur yang tentu tidak senyaman di rumah. Makan mungkin seadanya. Tapi mereka bisa melakukannya, karena khawatir...karena gelisah..karena takut...

Lantas, saya jadi teringat kisah Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wassalam, tiap malam, bangun  untuk shalat malam sampai kaki beliau bengkak. Ya, karena beliau khawatir...beliau takut kepada Allah...khawatir tidak dianggap sebagai hamba-Nya yang bersyukur. Kekhawatiran yang benar-benar menancap dan berbuah kebaikan yang luar biasa.

Nah...sudahkah level kekhawatiran kita sampai ke situ. Khawatir dengan dosa-dosa kita, khawatir dengan amal yang tidak  diterima, dan seterusnya. Memang berat, untuk mencapai level itu. Namun setidaknya kita berusaha untuk ke situ. Jadi kita perlu tetap memelihara rasa khawatir, rasa takut,rasa gelisah dan menyalurkannya untuk berbuat kebaikan. Rasa khawatir yang ada juga diimbangi dengan rasa harap  yang tetap menimbulkan semangat untuk berbuat kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar