Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2016

...MENYIAPKAN SESUATU YANG PASTI....

Suatu saat mendapat kiriman gambar dari seorang teman seperti ini




Isinya benar-benar mengingatkan saya akan sesuatu yang mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti akan menghadapinya...yaitu kematian. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan pasti kita semua yakin akan semua itu. Namun apakah keyakinan itu melahirkan sikap yang menunjukkan  bahwa kita  benar-benar yakin bahwa kita akan mati sehingga kita harus mempersiapkannya?....

Mari kita lihat dialog fiktif berikut ini.

A     : Apakah jika kita kuliah, terus lulus...apakah bisa menjamin kita dapat pekerjaan? 
B     : Belum tentu, tapi namanya juga berusaha...kan harus disiapkan
A     : Apakah jika misalnya kita dapat kerja, menjamin kita bakal kaya?
B     : Belum tentu juga sih....tapi kan harus tetap usaha.
A     : Kalau misalnya kita jadi orang kaya, apakah anak kita juga bakal kaya?
B     : Belum pasti juga sih...tapi apa salahnya. kan segalanya perlu dipersiapkan..
A     : Betul...tapi apakah kamu sudah mempersiapkan sesuatu yang telah pasti?
B     : Apa itu? (balik bertanya)
A     : Datangnya Kematian....apakah kamu telah menyiapkan kedatangannya?
B     : (Terdiam)

Begitulah.....Kita yakin, dan sepertinya tidak ada yang mengingkari bahwa kita semua akan mengalami kematian. Tapi keyakinan itu terkadang tidak tercermin dalam sebuah tindakan, yaitu untuk mempersiapakan datagnya kematian...padahal datangnya sudah pasti. Terkadang kita lebih sibuk untuk mempersiapkan sesuatu yang itu belum pasti dan melupakan untuk mempersiapkan sesuatu yang datangnya telah pasti.

Terkadang kita terlena dengan mengejar dunia, berangkat pagi-pagi buta, pulangnya sudah malam, bahkan sampai terlupa untuk shalat berjamaah bagi laki-laki, untuk sekadar membaca kitab suci Al-Qur'an, untuk dzikir, dan amal-amal yang akan menjadi bekal di akhir nanti. Apakah kita harus seperti itu?, Sudah merasa cukupkah persiapan kita untuk menyambut datangnya MATI?




Minggu, 31 Juli 2016

APA YANG KITA CARI?

Apa yang Kita Cari Di Dunia Ini?


tinggal di gunung...merindukan pantai..
menetap di pantai...ingin merasakan di gunung
yang di kota, jenuh...ingin ke desa..
yang di desa, bosan...ingin ke kota...
saat kemarau, bertanya kapan hujan..
saat hujan...resah...kapan kemarau tiba...
banyak kerjaan... mengeluh....
tidak ada kerjaan...bingung..
di rumah..ingin jalan keluar
diluar...ingin pulang ke rumah 
yang kuliah, ingin segera kerja
yang kerja..ingin balik kuliah lagi... 
saat sepi...ingin mencari keramaian...
saat ramai...rindu dengan keheningan..

Apa yang kita cari di dunia ini?

Ternyata SESUATU itu akan tampak indah karena belum memilikinya. Dan memang semestinya kita patut bersyukur dengan anugerah yang kita miliki saat ini, bukan berandai-andai dengan apa yang tidak kita miliki. Ada yang bilang cuma modal dengkul, padahal kalau dengkul kita ditawar orang 1 miliar, apakah kita mau ngasih?. Kata kuncinya adalah syukur. Dan tentu kita ingat, Allah akan menambah nikmat jika kita bersyukur kepada-Nya. 

Usia, harta, kesempatan, Kesehatan, dan segala yang ada pada diri kita (yang kita merasa memilikinya) ini adalah titipan sekaligus amanah. Semua akan diambil oleh Yang Maha Memiliki. Dan tidak hanya diambil, tapi juga akan ditanya bagaimana kita menggunakannya. Lalu sudah siapkah kita?

Jadi..apa yang kita cari di dunia ini?....




 




Kamis, 23 Juni 2016

..."U J I A N"...


Ujian...sebuah kata, yang bagi sebagian orang adalah menakutkan. Ujian
dengan berbagai bentuknya..entah ujian kelulusan, ujian kenaikan kelas, ujian naik pangkat, ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian sidang skripsi dan masih banyak bentuk ujian yang lain. Dulu ketika saya masih SD, katanya menjelang ada ujian Cawu (dulu nggak pake semester, tapi pake cawu), katanya saya seringnya sakit, entah flu atau panas. Padahal saya merasa nggak terbebani dengan adanya ujian, tapi nggak tahu kata Ibu saya dulu begitu, sering sakit menjelang ujian. Mungkin pikiran bawah sadarnya yang bilang bahwa ujian itu berat. Dan yang saya amati, pada beberapa training, beberapa peserta sering merasa terbebani dengan adanya ujian..takut gagal.

Ujian seperti UTS, UAS, kelulusan dan semisalnya akan memaksa orang untuk bisa melewatinya dengan segenap kemampuannya. Ini yang terkadang menjadi beban. Saya jadi ingat, dulu ketika sidang skripsi, ada salah satu mahasiswi yang juga bareng ikut ujian, sampe nangis-nangis karena terancam tidak lulus karena memang keliatannya tidak siap saat sidang skripsinya. Katanya, si mahasiswi ini sampai dibanding-bandingkan dengan mahasiswa lain (lebih tepatnya cowoknya) yang nilainya lebih bagus. Ya tambah nyeseklah, namanya juga wanita, ditambah dibanding-bandingkan gitu. Ini kayanya dosennya juga suka iseng menguji mental mahasiswanya.

Setelah sidang, salah satu dosen berkata. Dengan ujian yang waktunya, tempatnya dan materinya sudah pasti aja kalian masih suka ngeluh, masih merasa berat bahkan ada yang nangis-nangis. Bagaimana dengan ujian yang kalian tidak tahu kapan, dimana dan bentuknya seperti apa. Hidup di dunia ini pada hakikatnya penuh dengan ujian...kapan, dimana dan bagaimana bentuk ujian itu terkadang kita tidak tahu, Bahkan kadang kita tidak sadar bahwa kita ini sedang diuji...Kita bisa diuji dengan kemiskinan, kehilangan, kekecewaan...tapi ingat, kesuksesan dunia, kekayaan, kemewahan, itu bisa jadi adalah ujian bagi kita.

Hmmm, betul juga. Untuk ujian yang sudah tahu, waktu, tempat dan bentuk ujian saja, kita masih merasa berat, tapi kadang kita lupa dan tidak mempersiapkan ujian-ujian kehidupan dunia ini.

Jumat, 10 Juni 2016

...MAU DITARUH DI LAPAK YANG MANA?...




Pernah merasakan yang namanya "sego kucing"?. Kenapa disebut sego kucing? karena makanan ini lebih pantas disajikan kepada kucing karena porsi dan struktur menunya. Bagaimana tidak, nasinya cuma sedikit, ditambah potongan ikan bandeng sakmit plus sambel sakndulit. Dikemas dalam bungkusan dengan bungkusan koran atau kertas atau kadang daun pisang. Tapi justru sensasinya itu...apalagi kalau makannya di angkringan, plus ngobrol ngalor-ngidul sesama penikmat sego kucing. Wah bisa 3 porsi habis. Ditambah nyomot lauk-pauk yang lain, sama minum teh anget, wuih..manteb pokoknya.

Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, waktu itu kebetulan saya masih menunggu  Ibu yang dirawat di RS, dan sego kucing menjadi salah satu alternatif menu untuk mengganjal perut. Harga 1 bungkus sego kucing pada waktu itu kalau nggak salah Rp. 1.500 dan ada yang Rp 2.000,. Harga segitu cukup merakyat apalagi buat saya yang hanya level staf jelata ini. 

Saat saya di bandara, eh...ternyata di dalam bandara juga ada yang jual nasi bungkus....mirip-mirip sego kucing gitu lah. Ketika melihat daftar harganya,,,waduh,,,ternyata Rp.8.000. Wee..lhadalah,,,langsung mlipir menyingkir. Namanya juga di bandara, pasti apa-apa mahal. Saya jadi ingat, dulu saat di bandara lupa tidak membawa air mineral dan benar-benar kehausan. Tidak ada pilihan selain mencuri....eh, membeli maksudnya. Dan terbelilah itu minuman dengan harga sekitar 5 kali lipat dari harga di luar bandara. Wow...

Memang, nilai atau harga barang tidak hanya dari kualitas barangnya saja. Tapi juga dipengaruhi di mana barang itu dijual. Di lapak yang mana barang itu ditaruh. Sego kucing, minuman, atau mungkin pakaian yang biasa dijual di emperan toko atau pinggir jalan, akan berbeda nilai ketika dijual di bandara. Tergantung lapaknya di mana. 

Pun demikian dengan harta kita dan amalan kita. Mau ditaruh di lapak yang mana?. Kalau kita punya duit 100 ribu. Nah mau ditaruh di lapak yang mana?..mau buat nongkrong di kafe? Kalau di situ mungkin  buat saksruputan atau sakklamutan makanan/minuman mungkin sudah habis, atau malah nggak cukup. Nah, pilihan lain ditaruh di lapak lain. Bisa dengan disumbangkan untuk pembangunan masjid, atau untuk membantu saudara kita yang tidak mampu atau untuk amal shalih lainnya. Tentu nilainya akan berbeda yang dibuat nongkrong di kafe sama yang disumbangkan ke jalan yang kedua tadi meski sama-sama 100 ribu. Allah akan mengganjar bahkan sampai 700 kali lipat untuk pilihan yang kedua.

Nah...balik lagi ke hidup adalah pilihan, mau ditaruh lapak yang mana, harta kita, amalan kita. Mumpung bulan ramadhan nih...sedang obral pahala, Sampeyan bisa memilih mau ditaruh di lapak yang mana harta sampeyan.










Senin, 16 Mei 2016

"NGGAK SEMPAT ATAU BUKAN PRIORITAS?"

Saya pernah mendapatkan sebuah kiriman Whattsap dari seorang kawan. Isinya tentang percakapan antara seorang guru dengan muridnya. Saya sudah agak lupa detail percakapannya, tetapi kurang lebih adalah Sang guru menanyakan kenapa sang murid tidak lagi rajin seperti dulu, mengerjakan tugas, setor hafalan, bahkan mulai jarang hadir di kelas. Kurang lebih dialognya seperti ini.

Guru :       Wahai Muridku, kenapa akhir-akhir ini engkau jarang hadir di majelis? Hafalan juga jarang setor, PR juga jarang dikerjakan. Ada apa gerangan dengan dirimu?

Murid:      Ya..syaikh...maaf..akhir-akhir ini saya benar-benar sibuk. Pekerjaan di tempat kerja sedang padat-padatnya. Bahkan takjarang saya lembur sampai malam. Di akhir pekan, saya maksimalkan untuk bertemu keluarga. Jadi tidak sempat untuk datang belajar apalagi untuk menghafal dan mengerjakan tugas. Demikian syaikh, mohon dimaklumi.

Guru :      Wahai muridku....Tidak apa-apa, itu adalah pilihan yang engkau telah ambil. Hanya saja, menurutku, engkau bukannya tidak sempat. Tetapi engkau lebih memprioritaskan hal lain daripada untuk belajar...Itu saja....jika engkau mengutamakan pelajaran ini, tentu engkau akan lebih memilih hal ini dari pada harus lembur, atau bisa menyediakan sebagian waktu di akhir pekanmu atau tetap berusaha untuk menyempatkan diri untuk hal ini.

Murid :        (Terdiam)


Cerita di atas memberi pesan bahwa tidak sempat itu hanya sebuah alasan saja. Seseorang tidak sempat karena memang menganggap sesuatu itu tidak penting dibandingkan yang lain sehingga dia tidak sempat melakukannya.  Mungkin ada yang  pernah mengalami atau mungkin sering menghadapi beberapa hal yang harus diselesaikan, dan dia harus memilih untuk menyelesaikan sebagian dan meninggalkan yang lainnya. Dan biasanya alasannya adalah "tidak sempat". Tidak sempat karena memang bukan prioritas.


Misalnya seorang karyawan merangkap mahasiswa. Dia harus bekerja, belum kalau lagi sibuk-sibuknya di tempat kerja. Di sisi lain dia mesti berkutat dengan banyaknya tugas kuliah. Belum harus meninggalkan waktu buat main sama teman-temannya, jalan sama pasangan, atau waktu berkumpul buat keluarga. Hidup adalah pilihan, dan kadang kita harus dipaksa untuk memilih mana yang lebih prioritas dan mana yang kurang prioritas. Dan ketika kuliah yang jadi kurang prioritas, alasannya adalah tidak sempat. Bukan sesuatu yang  pasti buruk, karena itu pilihan masing-masing. Semua tergantung dari apa yang dia prioritaskan.
  
Pernah saya mendapati seorang mahasiswi yang sudah hamil 9 bulan masih sempat mengikuti ujian. Itu kalo tiba-tiba lahiran saat lagi ujian apa nggak repot ya....Dan pernah pula saya dapati mahasiswa dengan wajah pucat dan badan masih lemes tetap nekat mengikuti ujian. Ternyata habis sakit tipes. Saya menyarankan ikut ujian susulan saja, biar lebih fit dan hasilnya lebih optimal, tapi kekeuh ga mau. Nah...bisa jadi, ujian bagi mereka itu adalah prioritas, sehingga dalam kondisi apapun harus sempat.

Saya jadi inget, pas saya masih kecil dulu kalau tidak salah pas kelas 2 atau 3 SD. Saya adalah penggemar yang namanya wayang kulit. Mungkin memang sejak dari kecil, dikenalkan dan dibiasakan dengan hal itu. Dulu pas ada tetangga punya hajatan hiburannya wayang kulit, Saya nonton pagelaran wayang kulit mulai dari jam 1 malam sampai selesai kurang lebih pas subuh. Padahal paginya ada ujian....entah itu mungkin kalau bahasa anak sekarang hal yang absurd.  Tapi ya begitulah adanya. Saya lebih memproritaskan nonton wayang kulit daripada belajar. Mungkin kalau anak sekarang ada yang lebih memilih main Play Station pas besoknya ujian, atau memilih nonton di bioskop padahal besoknya ujian, karena mungkin filmnya memang lagi bagus. Lagi-lagi ini masalah prioritas.

Itu dalam ujian dan perkuliahan. Lalu bagaimana dengan seorang muslim yang tidak sempat shalat, atau tidak sempat shalat berjamaah...,bahkan tidak sempatnya itu rutin alias konsisten kecuali hari Jumat siang. Atau tidak sempat bersedekah, tidak sempat mengunjungi dan berbuat baik pada orang tuanya, bahkan untuk berdo'a pun tidak sempat. Jangan-jangan hal-hal tadi memang bukan prioritas. Dikalahkan oleh hal-hal lain yang lebih menjadi prioritas. Semua tergantung maisng-masing orang. Nilai-nilai apa yang dia pegang, orientasi hidupnya ke mana, dan ujungnya adalah sebuah pertanyaan besar..."Apa yang kita cari di dunia ini?".

Nah, sebentar lagi bagi yang muslim, kita akan kedatangan bulan yang agung, bukan penuh berkah, penuh ampunan, bulan obral pahala. Adakah yang akan tidak sempat shalat berjamaah tepat waktu...tidak sempat bersedekah...tidak sempat mengkhatamkan membaca Al Qur'an minimal satu kali....tidak sempat shalat malam.....apalagi tidak sempat puasa..... Semua lagi-lagi tergantung apa yang kita prioritaskan dan akan berujung pada apa yang mau kita cari di dunia ini.













Sabtu, 14 Mei 2016

...''TONE AT THE TOP"...




Tone at the top..., artinya kurang lebih adalah sikap, kebijakan, ritme atau gaya dari seorang pemimpin. Nah...tone at the top ini sangat berpengaruh terhadap suatu organisas, baik sektor swasta apalagi sektor pemerintah. Bahkan di sektor pemerintahan lebih dibutuhkan pemimpin yang benar-benar bisa mengubah ke arah yang lebih baik, mengubah mind set dilayani menjadi melayani, dan benar-benar menjadi pelayan publik, serta tetap sesuai dengan koridor peraturan yang berlaku.

Pun demikian dengan pengadaan barang/jasa pemerintah (PBJ). Sebagian besar perkara korupsi di tanah air ini adalah perkara PBJ. Dan ironissnya lagi yang menjadi tersangka tidak jarang adalah pucuk pimpinannya sendiri, entah menteri...entah gubernur..bupati...walikota...kepala dinas..... Padahal pemimpin adalah yang seharusya memberikan contoh kebaikan. Jika pemimpinnya seperti itu, bagaimana yang dipimpinnya?. Tone at the top mempengaruhi apa yang ada di bawahnya. Pemimpin akan dianut oleh anak buahnya...seorang pemimpin akan mempengaruhi bagaimana organisasi yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya sudah koruspi, atau dia membuat atau mempengaruhi lingkungan/kondisi/suasana atau mungkin sistem yang memudahkan untuk melakukan korupsi, maka kemungkinan besar instansi itu menjadi bobrok. Tak heran jika COSO sebagai salah satu best practice pengendalian internal, salah satu komponennya adalah lingkungan pengendalian. Nah dalam lingkungan pengendalian itulah, peran dari pemimpin cukup besar.

Saya sempat mendengarkan cerita bernada "curhatan semi keluhan" dari teman di Inspektorat salah satu kabupaten/kota (Inspektorat adalah auditor internal di pemerintahan).  Dia bercerita, di kabupaten/kota dia, untuk proyek pengadaan barang/jasa lewat penyedia, mesti lapor bupati. Jika melalui swakelola lapor wakil bupati. Ternyata memang sang bupati dan wakilnya ada kepentingan di situ untuk "main" dalam proses tendernya. Wah duet maut bener nih saya bilang. Mungkin saat nyalon bupati, modalnya banyak jadi mesti minimal mbalikin modal plus keuntungan sekian persen..(Lhoh jadi dagang ya... kok nyari untung)....Kalau sudah pimpinan seperti itu, biasanya anak buahnya responnya macem-macem. Mungkin ada yang ,alah jadi pengikut setia, mendapat bagian, posisi aman, Pokoknya Asal Bapak Senang. Mungkin ada yang tidak setuju tapi tidak berani mengingatkan karena risikonya mungkin besar. Atau mungkin ada yang berani tapi siap-siap untuk paling tidak ditempatkan di unit kerja yang kering...(gurun pasir kali ya..).

Nah, kawan saya ini juga akhirnya nggak bisa apa-apa. Ini berartinya fungsi Aparat Pengawas Internal Pemerintah alias APIP alias internal auditornya pemerintah nggak jalan fungsinya. Karena apa, karena pimpinannya. Nah kalau APIP saja nggak jalan, gimana...padahal APIP fungsinya untuk mengawasi efektivitas pengendalian internal pemerintah dan kalau dalam cerita tadi adalah pengadaan barang/jasa. Lagi-lagi ini tentang tone at the top, tentang bagaimana seorang pemimpin memberi warna terhadap instansi yang dipimpinnya.

Lain lagi kalau cerita yang ini. Sekitar 1,5 bulan yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk melihat-melihat dan belajar tentang bagaimana kebijakan salah seorang bupati di daerah Pantura sana. Ada beberapa kebijakan yang saya rasa  cukup menarik dan menjadi terobosan baru, khususnya dalam membenahi birokrasi dimana di dalamnya terdapat tentang pengelolaan pengadaan barang/jasa. Dan saya juga dapat cerita dari kawan ULP dari sanatentang kebijakan-kebijakan beberapa hal khususnya dalam pengelolaan pengadaan barang/jasa.  

Cerita pertama yang menarik adalah, ternyata Pak Bupati itu pada awal-awal menjabat mengajak anak buahnya untuk piknik....Wah enak bener nih, awal menjabat langsung piknik...mungkin ada benarnya juga...agar nggak pada kurang piknik. Nah, pikniknya kemana?...ternyata ke salah lembaga pemasyarakatan alias LP. Disitu masing-masing disuruh masuk ke salah satu ruangan dan merasakan bagaimana nikmatnya tinggal disitu. Dan bupati berpesan, kalau nggak mau tinggal disitu, kerja yang bener dan jangan sekali-kali korupsi. Sebuah shock terapy yang saya rasa cukup bagus di awal-awal Pak Bupati memimpin.

Nah, bagaimana dengan kebijakan di PBJ sendiri? Pak Bupati sudah berkomitmen tidak akan mencampuri urusan per-tender-an, Pokoknya itu sudah menjadi ranahnya ULP. Bahkan beliau sendiri membuat semacam surat pernyataan yang intinya beliau tidak campur tangan urusan tender, melarang penyedia barang/jasa memberikan apapun ke bupati baik langsuing atau lewat keluarga dan memberikan apapun ke pihak-pihak yang terkait dengan pengadaan. Surat pernyataan itu ditandatangani, diperbanyak dan disebar di seluruh satuan kerja sehingga semuanya tahu. Jadi kecil kemungkinan akan ada penyedia nakal masuk, membawa-bawa nama bupati. Kebijakan yang lain adalah saat penyedia sudah menang. Pak Bupati mengundang langsung penyedia yang menang dan beliau menyerahkan surat yang isinya antara lain:
  • Penyedia menang secara fair
  • Penyedia tidak boleh memberikan apapun kepada pihak-pihak yang terkait dengan PBJ
  • Penyedia harus mengerjakan pekerjaan sesuai kontrak
  • Jika menyalahi kontrak atau melakukan tindakan suap dll, maka harus siap dengan konsekuensinya.
Biasanya ketika mengundang penyedia, diundang pula pihak Polres dan Kejaksaan Negeri, sehingga benar-benar mengeaskan komitmen untuk bekerja sebaik-baiknya dan tidak akan ada yang namanya tindakan nakal untuk main curang mengurangi volume atau mengurangi kualitas material dan pekerjaan. Dalam proses pekerjaanpun, khususnya pekerjaan fisik, Pemda bekerja sama dengan salah satu universitas untuk memastikan kualitas pekerjaan melalui uji laboratorium. Segala tindakan-tindakan ini adalah dalam rangka untuk pengadaan yang benar-benar kredibel sekaligus bisa bermanfaat bagi kesejahteraan masyarkat. Ketika membangun pasar, bangunannya memang berkualitas, ketika membangun jembatan dan jalan juga seperti itu. Infrastruktur mencukupi, maka perekonomian menjadi lebih mudah di tata. Dan ini salah satunya adalah dengan tadi...Tone at the top.

Salah satu kebijakan Pak Bupati yang saya merasa salut adalah, kewajiban untuk menghentikan segala aktivitas pada saat jam shalat dhuhur dan ashar. Bagi pegawai muslim wajib shalat berjama'ah. Mungkin ini tidak terkait langsung dengan menata sistem birokrasi, tetapi saya termasuk yang percaya bahwa Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Korupsi adalah termasuk perbuatan keji dan munkar, dan itu adalah salah satu tindakan preventif untuk mencegah tindakan korupsi dan perbuatan lain yang semisal. Nah..terus para koruptor itu juga shalat tuh.... Itu yang salah bukan shalatnya tapi manusianya.Bahkan orang yang shalat pun masih terancam kok. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan riya' dalam shalatnya...Wah jadi membahas shalat. Intinya adalah, perbaikan bangsa ini tidak hanya dari sistem, tapi juga dari personal orangnya. Bayangkan juga semua pegawai di negeri ini takut akan neraka, yakin bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, apakah masih berani untuk korupsi....
Semoga di era otonomi daerah ini, lebih banyak terpilih pemimpin-pemimpin yang ada pada cerita nomor dua, dibandingkan cerita yang pertama. Lebih banyak pemimpin yang amanah. Karena bagaimanapun juga, pemimpin adalah pemberi contoh yang diteladani sekaligus pemikul amanah yang berat. Bagus tidaknya instansi salah satunya dipengaruhi oleh siapa dan bagaimana pemimpinnya.











Minggu, 01 Mei 2016

BUKAN YANG PENTING "AKU"

Cerita I :

Alkisah ada sebuah penjara di pulau terkecil. Pulau sekaligus penjara itu dikuasai oleh seorang pemimpin yang kejam dan berkelakuan aneh. Penjara tersebut dihuni oleh 600 orang dari berbagai kalangan penjahat terutama pelaku kejahatan yang berat. Penjara itu dijaga dengan sedemikian ketatnya sehingga tidak memungkin untuk dapat meloloskan diri.

Suatu hari penguasa penjara itu membuat keputusan yang aneh. Dia akan membebaskan semua penghuni penjara tanpa terkecuali. Namun, caranya adalah, semua harus melewati pintu dengan yang hanya bisa dilewati satu orang saja. Waktu untuk meloloskan diri hanya diberi waktu 20 menit. Setelah lewat 20 menit, jika masih ada belum keluar melalui pintu tersebut akan dikenai hukuman mati. Lantas..kira-kira apa yang terjadi?

Kemungkinan terbesar adalah keributan besar-besaran. Mengingat disitu adalah para penjahat kelas wahid. Ada peluang untuk bebas, waktu dibatasi, dan jika tidak mendapatkan peluang itu akan terkena hukuman mati. Maka dapat diperkirakan, mungkin hanya sedikit yang dapat keluar, karena masing-masing ingin duluan...AKU duluan...AKU duluan..tidak perduli dengan yang lain. Semuanya mementingkan dirinya sendiri.

Padahal jika mereka mau antri berbaris dengan rapi, tertib dan bersabar, bisa jadi waktu 20 menit alias 1200 detik itu cukup untuk meloloskan 600 penghuni penjara tersebut. Karena satu orang membutuhkan waktu 2 detik dan itu cukup. Namun,,,"yang penting AKU",  karena waktu terbatas bisa menghilangkan pikiran itu.


Cerita II:

Andaikan organ-organ tubuh manusia dapat berbicara dan andaikan mereka menganggap dirinya paling unggul. Adalah otak yang pertama kali bicara. "Akulah yang paling penting, karena akulah mengendalikan hampir semua aktivitas bagian tubuh manusia". Sang jantung tak mau kalah, "..ingat akulah yang memompa darah buat kalian-kalian, kalau nggak ada aku bisa apa kalian?"...Paru-paru jika ikutan, "akulah yang mengubah oksigen menjadi energi, akulah yang paling penting...dan  hampir semuanya mulai ikut angkat bicara...ginjal, mata, hidung..tulang rusuk dan lain-lain.

Dan semuanya memandang sebelah mata dan meremehkan organ tubuh yang satu ini..(maaf)..dubur. Merasa dipandang sebelah mata dan diremehkan awalnya biasa-biasa saja. Namun karena terus seperti itu, dia mulai nggak enak hati atau dapat dikatakan ngambek. Hari pertama, dia tidak mau bekerja sebagaimana mestinya. Badan masih baik-baik saja. Sampai hari ketiga dia masih mogok kerja, sehingga kotoran yang mestinya dibuang jadi numpuk di perut. Hari keempat dan seterusnya badan mulai merasa nggak enak dan mulai kerasa ke organ-organ lain.

Organ tubuh yang lain bertanya-tanya, ada apa ini?...ada apa ini?...Setelah ditelusuri ternyata memang ada organ yang mogok kerja. Organ tubuh yang dianggap sebelah mata, diremehkan..padahal fungsinya juga sangat penting. 


Dari cerita-cerita di atas, terdapat dua hal menarik. Dari cerita I, dapat diambil pelajaran bahwa pentingnya bagi kita untuk tertib, antri, tidak mengutamakan diri sendiri,  tidak egois, dst....(suatu hal yang sering saya temui khususnya dalam berlalu lintas di ibu kota ini). 

Cerita II, memberikan pelajaran pada kita bahwa, khususnya dalam teamwork semua orang mempunyai peran masing-masing. Tidak ada yang paling hebat, semua bekerja sama dan saling mendukung. Pernahkah kita bayangkan seandainya semuan tukang sampah di Jakarta mogok kerja 1 minggu aja?...Mungkin Jakarta akan penuh dengan sampah. Mungkin pernah ada yang kelimpungan ketika tidak ada pembantu rumah tangga. Atau yang bekerja di kantor, kerepotan ketika OB nggak ada. Yah..begitulah..semua ada peran masing-masing.